Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: "Iman terdiri dari tujuh puluh bagian, dan MALU adalah salah satu dari bagian-bagian iman"
Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda; "MALU adalah sebagian dari iman"
Sumbernya dari buku Hadist Riwayat Bukhari Muslim yang aku baca kemarin malam.Diriwayatkan dari Imran bin Husaini, Rasulullah SAW bersabda: "MALU tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan"
Mmmmhhh…..
Karna aku wanita, aku ingin menuliskan tentang hijab, menghubungkan rasa malu dengan hijab itu sendiri, sepertinya menarik,…. Tahukah kita, bahwa berhijab merupakan sebuah kewajiban, suatu keharusan, aplikasinya sebagai bentuk "Malu" memperlihatkan, mengumbar dan mempertontonkan aurat kepada yang tidak berhak melihat -bukan muhrim-, bahwa hijab adalah sebuah bentuk penjagaan khusus dari Alloh kepada kita -para hawa, wanita, venus, perempuan, cewek, female- terhadap mahkota kehormatan yang melekat pada kaum kita. Nah.....bukankah berarti Alloh itu sungguh sangat sayang sekali pada kita, sampai ada penjagaannya pake khusus pula, wanita memang istimewa yaaaa #tepuktangan. Tapi kok yah, masih ada juga yang belum menyadarinya, dengan alasan belum siap, belum ini, belum itu. Padahal, taukah kalian, ketidaksiapan tidak mengugurkan kewajiban akan hijab, sama sekali. Kenapa? Mari baca ini…
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nur:31)
Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Al Ahzab:59)
Berhijab, sekarang sedang nge-trend para hijaber dengan gaya hijab yang macem2, bagus2 dan sepertinya menggoda sekali untuk “ikut” bergaya demikian, awal2 aku memang tergoda, tapi semakin kesini, kok aku ngrasa aneh sendiri, aneh aja ketika aku pake jilbab yang kurang nutup dada, pendek banget belakangnya, takut2 rambutnya malah keluar, kan aneh, udah gitu pakeannya ga beda sama sebelum pake jilbab bedanya cuma rambutnya ditutupin “maksa”, hah. Bukan, aku bukan sedang mendiskriminasikan para hijaber yang pernah aku ikutin trend-nya, tapi ini hanya hasil dari perbincanganku dengan diriku sendiri, disisi lain, aku sukaaaaaaaaa banget sama penampilan akhwat2 dipengajian yang ku ikuti, terlihat sederhana tapi anggun dalam pandangan mataku. Kenapa tidak aku merubahnya, dan sejak akhir tahun 2013 kemarin aku buat resolusi untuk tahun ini tentang hijabku, bisa dibaca di http://akunovia.blogspot.com/2014/01/tentang-resolusi-2014-ku.html
Bagaimanapun hijab yang dikenakan oleh para wanita, termasuk aku, bagaimanapun bentuknya, apapun warnanya, seperti apapun modelnya, mungkin sama, mungkin juga berbeda, jika berbedapun, biarlah berbeda,,, karena cara terbaik menghadapi perbedaan adalah membiarkannya berbeda, bukan? tidak perlu merasa paling benar sendiri, tidak perlu merasa paling2 sendiri, buat apa? karena penilaian tetap ada pada Alloh, tapi dengan berhijab kita sudah satu langkah menuju taat, hanya tinggal membenah diri agar bisa layak mendapat penilaian terbaik dari Alloh, kita sendiri yang tentukan.
Hijab Syar'i = Khimar(QS 24:31) + Jilbab(QS 33:59) - Tabarruj (QS 33:33)
Nah… untuk QS 24:31 dan QS 33:59, silakan baca lagi diatas, untuk Tabaruj,,,,
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. (QS. Al Ahzab:33)
Coba pahami lagi, hayati lebih dalam lagi, yang belum berhijab semoga lekas mendapat hidayah cinta dari sang Maha pemilik cinta, untuk yang telah berhijab, Alhamdulillah, dan cobalah bertanya sekali lagi pada hati nurani sendiri, untuk siapa kita memakai hijab, untuk tujuan apa kita memakai hijab. Untuk siapa? Untuk apa?mmmhhh…..
Kita kadang lupa, bahwa hijab itu bentuk taat kita kepada Alloh, untuk Alloh. Kita sering lupa, bahwa tujuan memakai hijab adalah sebagai bentuk “malu” kita, tujuan utamanya adalah penjagaan untuk kita, untuk “menarik perhatian” Alloh agar lebih mencintai kita. Iya, akupun begitu, terkadang lupa, tapi semoga tidak jadi pelupa untuk hal ini. Kalau berhijabnya untuk Alloh, kita akan mengikuti “aturan”Nya, sederhana, dan hei, tujuannya bukan untuk berlomba2 tampil paling modis, paling bagus, paling keyen, paling cantik dimata manusia, bukan juga untuk menarik perhatian lawan jenis, atau malah sengaja “menggoda” mereka, bukan! Karna harusnya kita tau, bahwa wanita adalah ujian paling berat untuk laki2,,,,,
Rasulullah SAW bersabda tentang fitnah wanita: “Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kita harusnya tau,,,, masalah ini bukan main2, bukan sekedar basa basi, jika ditanya tentang rasa malu, tak malukah kita menjadi fitnah bagi laki2? Tak malukah kita berpakaian, bersikap dan berkata yang menarik perhatian laki2, membuatnya “tergoda” padamu? Dan ketika rasa malu dipertanyakan, tak malukah?. Rasa malu seharusnya bisa menghindarkan diri kita dari fitnah itu. Bukankah akan bisa menjadi simbiolis mutualisme ketika kita -wanita- bisa menjaga diri dengan hijab yang syar’i maka dengan sendirinya mereka -laki2- juga akan terjaga pandangannya meski laki2 tersebut tidak paham agama, jika laki2 tersebut paham akan agama tentu bisa menjaga diri dan pandangannya. Dengan begitu kita –wanita dan laki2- bisa saling menguatkan dalam kebaikan. Harusnya bisa begitu.
Rasa malu bisa mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalanginya dari melakukan dosa dan maksiat. Bila seseorang memiliki rasa malu, hatinya akan selalu berada dalam kondisi “hidup”, sehingga matanya selalu terbuka untuk melihat mana yang “hitam” dan mana yang “putih”.
Ada kisah dari Amru Khalid dalam bukunya Akhlâq al-Mu’mîn(2),sumbernya kuambil dari sini. Konon, ada seorang –dalam kisah ini disebutkan seorang laki2, tapi bisa juga untuk bahan renungan kita (wanita) juga ko- datang kepada Ibrahim Ibnu Adam untuk meminta nasehat karena ia merasa kesulitan untuk meninggalkan dosa dan maksiat, ketika ia ingin bertobat, tapi tiba2 ia kembali melakukannya lagi, ia minta kepada beliau agar ditunjukkan sebuah cara yang bisa melindunginya dari melakukan dosa dan maksiat sekecil apapun. Berikut percakapan mereka; Ibrahim Ibnu Adam (I) dan seorang laki2 (L)
Cenah…kisahnya mengena, seperti pas sasaran, jadi mulai sekarang,,,, malulah pada Alloh yang maha melihat, malulah pada Alloh yang maha mengetahui, semoga bisa mencegah kita dari melakukan dosa dan maksiat. Lalu,,, tanyakan pada hatimu tentang rasa malu yang ada dalam dirimu? Jadi ketika rasa malu itu dipertanyakan di”sana”, kita tau pasti apa jawabannya. Tidak lebih tidak kurang.L : “Tunjukan padaku sesuatu yang bisa melindungiku hingga aku tidak lagi bermaksiat kepada Alloh?”
I: “Jika engkau ingin bermaksiat kepada Alloh, jangan bermaksiat dibumi-Nya”
L: “Lalu dimana aku bisa bermaksiat?”
I: “Di luar bumi-Nya”
L: “Bagaimana mungkin, sebab seluruh bumi ini milik Alloh.”
I: “Tidakah engkau malu bahwa seluruh bumi ini milik Alloh, tetapi engkau masih berbuat maksiat diatasnya?” (lalu melanjutkan) “Jika engkau ingin bermaksiat jangan memakan rizki-Nya”
L: “Bagaimana aku bisa hidup?”
I: ‘Tidakkah engkau malu memakan rizki-Nya sementara engkau bermaksiat kepada-Nya?,,,,, dan,,, Jika engkau ingin bermaksiat kepada-Nya lakukanlah ditempat yang tidak dilihat oleh-Nya”
L: “Bagaimana mungkin, sebab dimanapun kita berada Alloh melihat kita?
I: “Kalau begitu, masihkah engkau tidak malu bermaksiat dan melakukan dosa kepada-Nya sedang engkau tau Alloh maha melihat dan dekat denganmu?
Catatan ini, untuk kita semua para wanita, laki2 juga bisaaaaaa dan khususnya untuk diriku sendiri. Semoga bermanfaat :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar