Kamis, 27 Februari 2014

The PoweR of FoRgiveness


Terlepas sengaja atau tidak, kita sebagai manusia pernah melakukan kesalahan, menyakiti hati orang lain, menyinggung perasaan orang lain, dsb,,, dsb… pun kita pernah merasakan hal serupa, tersakiti, tersinggung, menjadi “korban” kesalahan, yang orang lain lakukan pada kita. Wajar. Karna manusia memang tempatnya salah dan lupa, sekarang bagaimana masing2 kita bisa saling memaafkan, memaafkan yang sebenar-benarnya.

Sejahat apapun orang yang sudah menyakiti kita, mereka tetap berhak dimaafkan, karna mereka juga manusia, punya hati, punya perasaan, punya fesbuk, haha…. Sama juga, kalo kita melakukan kesalahan pun, kita sangat ingin dimaafkan, ya kannnnn? Nah…. Belajar untuk berbesar hati memaafkan kesalahan orang lain pada kita adalah syarat untuk mendapatkan maaf juga dari orang lain yang pernah tersakiti oleh kita, agar bisa kembali “fitrah” lagi.

Perintah memaafkan merupakan perintah langsung dari Alloh, dalam Al-Qur’an, banyak sekali ayat yang menyampaikan tentang keutamaan memaafkan, mari baca lagi Al-Qur’annya…. baca lagi ayat2 "cinta”Nya. Pun dalam hadist,,, yang juga menyebutkan, betapa mulianya memaafkan itu.

Mengingat besarnya pahala yang Alloh janjikan pada orang yang memaafkan kesalahan orang yang menyakitinya, juga segudang manfaat lain yang diperoleh dari memaafkan baik secara fisik, psikologis dan spiritual, memaknai proses memaafkan menjadi sangat penting.

Lalu, proses apa yang terjadi saat seseorang memaafkan? 

Dari buku "handbook forgiveness", diungkapkan bahwa insting "memperbaiki hubungan" tidak hanya ada pada manusia, tapi juga pada hewan. Perbedaanya,,,, insting yang ada pada hewan ini bukanlah yang dimaksud "memaafkan" tapi hanya "berekonsiliasi".

Definisi rekonsiliasi sendiri adalah hubungan yang kembali pada level kerjasama dan toleransi yang normal. Dua makhluk yang sudah berekonsiliasi akan bersikap "biasa" lagi. Menurut kamus besar bahasa Indonesia, Rekonsiliasi=1 perbuatan memulihkan hubungan persahabatan pada keadaan semula.

Tapiiiiiiii,,, Rekonsiliasi BukaNLah Memaafkan. Memaafkan hanya bisa dilakukan oleh manusia.

Menurut penelitian, orang2 yang bisa "memaafkan" kesalahan oranglain, hidupnya lebih bahagia, mereka tidak akan menjadi "ahli sejarah" yang akan mengingat kesalahan orang2 kepadanya. 


Dari penjelasan ini, mari kita pahami, hayati dan renungkan,,,,, yang menjadi catatan pentingnya adalah selama proses memaafkan, apakah kita sudah BENAR2 MEMAAFKAN atauuuuu HANYA ber”REKONSILIASI”??? 
 photo 77_zps8a6e4f6e.gif photo m083_zpsd7042aa1.gif photo 77_zps8a6e4f6e.gif
 

Selasa, 25 Februari 2014

Mengenal kemampuan si “PS”


Hihi,,,, dari judulnya aku bukan mau membahas “PS” yang disukai kebanyakan orang yah,,,, yappppp! Bukan tentang PlayStation. Tapi tentang “PS” yang,,,, insyaAlloh bisa bermanfaat, minimal untuk diri sendiri. “PS” yang aku maksudkan adalah mengenai Problem Solving. Untuk definisinya, problem solving ialah proses mengidentifikasi masalah secara tepat, menentukan sumber dan akar penyebab masalah, yang kemudian bisa menghasilkan penyelesaian berupa solusi yang efektif dan efisien, kurang lebihnya begitu,,,,,

Mengingat akhir2 ini, sepertinya banyak kejadian "sepele" yang penyelesaian masalahnya begitu "dramatis", hal2 yang merugikan diri sendiri maupun diri orang lain bisa saja terjadi saat seseorang ga mampu menyelesaikan persoalan yang ia hadapi. Misalnya saja seperti berita2 ditelevisi kita, anak membunuh ibunya karena ga dibelikan sesuatu yang ia inginkan, suami tega membakar istrinya lantaran cemburu, dll, dll.... Naudzubillahimindzalik.

So,, Kemampuan problem solving adalah kemampuan yang sangat penting dimiliki oleh siapapun, termasuk kita. Konon katanya, kemampuan problem solving ini termasuk "higher order thinking skill" atauuu kemampuan berpikir level tinggi, artinya, kemampuan ini mempersyaratkan kemampuan intelektual yang cukup kompleks. tapi eh tapiiiiii ternyata kemampuan problem solving ini ga berkolerasi dengan tingkat pendidikan lohhhh....

Terusss,,, dari yang kubaca, kemampuan problem solving justru berkolerasi dengan kematangan emosi seseorang, bagaimana ia mengelola emosi itu bisa menunjukan seberapa kuat kekuatan rasionya. Misalnya sajah,,, jika seseorang merasa sudah bisa bekerja dan mempunyai penghasilan yang “lumayan”, jika ia impulsif dan tak bisa menahan keinginannya untuk belanja belanji,,,,membeli barang-barang bermerk dan “mahal”…bisa jadi keinginan yang tak terkelola itu akan melumpuhkan daya pikirnya/kekuatan rasionya untuk menentukan prioritas pengelolaan keuangannya, nahhhh,,,,

Kemudian lagi kata yang kubaca, ada 2 prinsip mengatasi masalah :

Pertama:
Problem focused coping (cara menyelesaikan masalah dengan mengubah situasi). Artinya situasinya bisa dirubah/changeable. Misalnya: seseorang yang merasa ga nyaman karna matanya sakit kalo diajak membaca dan melihat kompi, padahal kegiatannya full didepan kompi, lalu setelah "maksa" mata bekerja terus dan malah semakin ga nyaman, ia segera memeriksakan matanya kedokter, menggunakan kacamata merupakan saran terbaik. Itu yang akhirnya bisa membuatnya kembali nyaman dalam ber"kegiatan" meskipun jadi terlihat aneh dengan memakai kacamata. (Haha,,, ini pengalaman pribadi sayah) dan banyak contoh lainnya....

Kedua:
Emotion focused coping (cara menyelesaikan masalah dengan mengubah emosi kita), kita gunakan ketika persoalan yang dihadapi gak bisa kita ubah/Unchangeable. Misalnya: ada seseorang yang selalu di"ejek" krna "kurang tinggi" plus badannya kecil, ia sudah melakukan banyak cara yang ga merugikan dirinya untuk ngrubah badannya itu, tapi teutepppppppppp,,,,belum berubah juga, (haha.... sayah banget iniii) Dan ia juga ga tau gmn caranya agar "mereka2" berhenti meng"ejek"nya, mekipun mungkin bisa saja dia marah2 sama "mereka2" itu, tapi itu ga menyelesaikan masalah yah. Maka ia ubah saja perasaannya dalam menanggapi situasi itu, begitu kira2,,,,,

Kadang pada prakteknya kita suka "lupa" dengan prinsip ini. Ada situasi yang changeable, kita malah mengubah emosi kita, jadilah kita "cemen" dan ga mau berusaha. Atau sebaliknya, permasalahan yang Unchangeable, kita paksain untuk ubah situasinya, jadilah kitaaaa,,,, prustasi.

Secara psikobiologis, kemampuan problem solving pd individu berkembang seiring perkembangan CEO otak, yaitu prefrontal korteks, yg konon blm sepenuhnya matang sampai usia 25 thn,,,,, menurutku, ini jadi syarat perlu untuk terus mengasah kemampuan problem solving diri, agar lebih kritis lagi menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan yang semakin kompleks. Demikian,,,,,... Semoga bermanfaat :D


 photo cz10_zps2ea87e60.gif photo cz10_zps2ea87e60.gif photo cz10_zps2ea87e60.gif
 

*catatan utk diri sendiri

Selasa, 04 Februari 2014

tentang meReka yang beRgelaR "oRangtua"


Pernahkah kita mengeluh kenapa punya orangtua seperti orangtua kita yang sekarang?

Aku pernah.

Apa kalian pernah?

Entah kita sadari atau tidak,,,,

Lisan kita sering kali latah. Latah yang salah kaprah. Kita sering menyesal dan merasa sangat tidak beruntung dengan kondisi bapak ibu kita. Yang suka marah, yang tidak selalu bisa menuruti keinginan kita, yang kepintarannya tidak seberapa, yang sering melarang kita ini itu, atau bahkan, yang lupa mengajarkan kita ilmu agama.

Seringkali kita membandingkan bapak ibu kita dengan bapak ibu yang lain, selalu saja membandingkan, kenapa tidak seperti ini saja, kenapa tidak seperti itu saja, bisakah begini, bisakah begitu, semuanya, semuanya selalu

Half Purple and Blue Butterfly