Sabtu, 31 Mei 2014

Ketika Rasa Malu dipertanyakan....

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: "Iman terdiri dari tujuh puluh bagian, dan MALU adalah salah satu dari bagian-bagian iman"

Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Rasulullah SAW bersabda; "MALU adalah sebagian dari iman"
Diriwayatkan dari Imran bin Husaini, Rasulullah SAW bersabda: "MALU tidak datang kecuali dengan membawa kebaikan"
Sumbernya dari buku Hadist Riwayat Bukhari Muslim yang aku baca kemarin malam.

Mmmmhhh…..

Karna aku wanita, aku ingin menuliskan tentang hijab, menghubungkan rasa malu dengan hijab itu sendiri, sepertinya menarik,…. Tahukah kita, bahwa berhijab merupakan sebuah kewajiban, suatu keharusan, aplikasinya sebagai bentuk "Malu" memperlihatkan, mengumbar dan mempertontonkan aurat kepada yang tidak berhak melihat -bukan muhrim-, bahwa hijab adalah sebuah bentuk penjagaan khusus dari Alloh kepada kita -para hawa, wanita, venus, perempuan, cewek, female- terhadap mahkota kehormatan yang melekat pada kaum kita. Nah.....bukankah berarti Alloh itu sungguh sangat sayang sekali pada kita, sampai ada penjagaannya pake khusus pula, wanita memang istimewa yaaaa #tepuktangan. Tapi kok yah, masih ada juga yang belum menyadarinya, dengan alasan belum siap, belum ini, belum itu. Padahal, taukah kalian, ketidaksiapan tidak mengugurkan kewajiban akan hijab, sama sekali. Kenapa? Mari baca ini…

Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung. (QS. An Nur:31)
Wahai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Al Ahzab:59)
Ayat2 tadi telah ada jauhhhhhh sebelum kita lahir, sebelum ayah-ibu kita ada, jauhhhhhhh. dan sayangnya, aku, iya aku yang menulis catatan ini baru kemarin berhijab, 2thn berjalan, dan rasa malu itu kupertanyakan sekarang, kemana saja aku sebelum akhirnya berhijab, hah #taktahumalu. aku mungkin beruntung karena masih diberi “kesempatan”, bagaimana jika aku meninggal duluan sebelum aku memenuhi kewajiban ini, berhijab, bagaimana coba? Bisa bayangkan pertanggungjawabannya akan seperti apa, penjelasan apa pula yang akan aku sampaikan atas pertanyaan tentang hijab ini, apa? #malumaluinkan.

Berhijab, sekarang sedang nge-trend para hijaber dengan gaya hijab yang macem2, bagus2 dan sepertinya menggoda sekali untuk “ikut” bergaya demikian, awal2 aku memang tergoda, tapi semakin kesini, kok aku ngrasa aneh sendiri, aneh aja ketika aku pake jilbab yang kurang nutup dada, pendek banget belakangnya, takut2 rambutnya malah keluar, kan aneh, udah gitu pakeannya ga beda sama sebelum pake jilbab bedanya cuma rambutnya ditutupin “maksa”, hah. Bukan, aku bukan sedang mendiskriminasikan para hijaber yang pernah aku ikutin trend-nya, tapi ini hanya hasil dari perbincanganku dengan diriku sendiri, disisi lain, aku sukaaaaaaaaa banget sama penampilan akhwat2 dipengajian yang ku ikuti, terlihat sederhana tapi anggun dalam pandangan mataku. Kenapa tidak aku merubahnya, dan sejak akhir tahun 2013 kemarin aku buat resolusi untuk tahun ini tentang hijabku, bisa dibaca di http://akunovia.blogspot.com/2014/01/tentang-resolusi-2014-ku.html

Bagaimanapun hijab yang dikenakan oleh para wanita, termasuk aku, bagaimanapun bentuknya, apapun warnanya, seperti apapun modelnya, mungkin sama, mungkin juga berbeda, jika berbedapun, biarlah berbeda,,, karena cara terbaik menghadapi perbedaan adalah membiarkannya berbeda, bukan? tidak perlu merasa paling benar sendiri, tidak perlu merasa paling2 sendiri, buat apa? karena penilaian tetap ada pada Alloh, tapi dengan berhijab kita sudah satu langkah menuju taat, hanya tinggal membenah diri agar bisa layak mendapat penilaian terbaik dari Alloh, kita sendiri yang tentukan.

 photo ATT1_zpsdd4dffba.gif photo ATT1_zpsdd4dffba.gif photo ATT1_zpsdd4dffba.gif

Aku masih bertanya dalam hati bagaimana agar bisa syar'i, berhijab syar'i, berpenampilan syar'i....dannnnn Kalian pasti tau Ust. Felix kan? Tentang hijab syar’i, aku mendapat jawaban atas pertanyaan bagaimana hijab yang syar’i itu. Menurut beliau,,,,
Hijab Syar'i = Khimar(QS 24:31) + Jilbab(QS 33:59) - Tabarruj (QS 33:33)

Nah… untuk QS 24:31 dan QS 33:59, silakan baca lagi diatas, untuk Tabaruj,,,,
Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. (QS. Al Ahzab:33)

Coba pahami lagi, hayati lebih dalam lagi, yang belum berhijab semoga lekas mendapat hidayah cinta dari sang Maha pemilik cinta, untuk yang telah berhijab, Alhamdulillah, dan cobalah bertanya sekali lagi pada hati nurani sendiri, untuk siapa kita memakai hijab, untuk tujuan apa kita memakai hijab. Untuk siapa? Untuk apa?mmmhhh…..

Kita kadang lupa, bahwa hijab itu bentuk taat kita kepada Alloh, untuk Alloh. Kita sering lupa, bahwa tujuan memakai hijab adalah sebagai bentuk “malu” kita, tujuan utamanya adalah penjagaan untuk kita, untuk “menarik perhatian” Alloh agar lebih mencintai kita. Iya, akupun begitu, terkadang lupa, tapi semoga tidak jadi pelupa untuk hal ini. Kalau berhijabnya untuk Alloh, kita akan mengikuti “aturan”Nya, sederhana, dan hei, tujuannya bukan untuk berlomba2 tampil paling modis, paling bagus, paling keyen, paling cantik dimata manusia, bukan juga untuk menarik perhatian lawan jenis, atau malah sengaja “menggoda” mereka, bukan! Karna harusnya kita tau, bahwa wanita adalah ujian paling berat untuk laki2,,,,,
Rasulullah SAW bersabda tentang fitnah wanita: “Tidaklah aku tinggalkan setelahku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki-laki daripada fitnahnya wanita.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kita harusnya tau,,,, masalah ini bukan main2, bukan sekedar basa basi, jika ditanya tentang rasa malu, tak malukah kita menjadi fitnah bagi laki2? Tak malukah kita berpakaian, bersikap dan berkata yang menarik perhatian laki2, membuatnya “tergoda” padamu? Dan ketika rasa malu dipertanyakan, tak malukah?. Rasa malu seharusnya bisa menghindarkan diri kita dari fitnah itu. Bukankah akan bisa menjadi simbiolis mutualisme ketika kita -wanita- bisa menjaga diri dengan hijab yang syar’i maka dengan sendirinya mereka -laki2- juga akan terjaga pandangannya meski laki2 tersebut tidak paham agama, jika laki2 tersebut paham akan agama tentu bisa menjaga diri dan pandangannya. Dengan begitu kita –wanita dan laki2- bisa saling menguatkan dalam kebaikan. Harusnya bisa begitu.

Rasa malu bisa mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalanginya dari melakukan dosa dan maksiat. Bila seseorang memiliki rasa malu, hatinya akan selalu berada dalam kondisi “hidup”, sehingga matanya selalu terbuka untuk melihat mana yang “hitam” dan mana yang “putih”.

Ada kisah dari Amru Khalid dalam bukunya Akhlâq al-Mu’mîn(2),sumbernya kuambil dari sini. Konon, ada seorang –dalam kisah ini disebutkan seorang laki2, tapi bisa juga untuk bahan renungan kita (wanita) juga ko- datang kepada Ibrahim Ibnu Adam untuk meminta nasehat karena ia merasa kesulitan untuk meninggalkan dosa dan maksiat, ketika ia ingin bertobat, tapi tiba2 ia kembali melakukannya lagi, ia minta kepada beliau agar ditunjukkan sebuah cara yang bisa melindunginya dari melakukan dosa dan maksiat sekecil apapun. Berikut percakapan mereka; Ibrahim Ibnu Adam (I) dan seorang laki2 (L)
L : “Tunjukan padaku sesuatu yang bisa melindungiku hingga aku tidak lagi bermaksiat kepada Alloh?”

I: “Jika engkau ingin bermaksiat kepada Alloh, jangan bermaksiat dibumi-Nya”

L: “Lalu dimana aku bisa bermaksiat?”

I: “Di luar bumi-Nya”

L: “Bagaimana mungkin, sebab seluruh bumi ini milik Alloh.”

I: “Tidakah engkau malu bahwa seluruh bumi ini milik Alloh, tetapi engkau masih berbuat maksiat diatasnya?” (lalu melanjutkan) “Jika engkau ingin bermaksiat jangan memakan rizki-Nya”

L: “Bagaimana aku bisa hidup?”

I: ‘Tidakkah engkau malu memakan rizki-Nya sementara engkau bermaksiat kepada-Nya?,,,,, dan,,, Jika engkau ingin bermaksiat kepada-Nya lakukanlah ditempat yang tidak dilihat oleh-Nya”

L: “Bagaimana mungkin, sebab dimanapun kita berada Alloh melihat kita?

I: “Kalau begitu, masihkah engkau tidak malu bermaksiat dan melakukan dosa kepada-Nya sedang engkau tau Alloh maha melihat dan dekat denganmu?
Cenah…kisahnya mengena, seperti pas sasaran, jadi mulai sekarang,,,, malulah pada Alloh yang maha melihat, malulah pada Alloh yang maha mengetahui, semoga bisa mencegah kita dari melakukan dosa dan maksiat. Lalu,,, tanyakan pada hatimu tentang rasa malu yang ada dalam dirimu? Jadi ketika rasa malu itu dipertanyakan di”sana”, kita tau pasti apa jawabannya. Tidak lebih tidak kurang.

Catatan ini, untuk kita semua para wanita, laki2 juga bisaaaaaa dan khususnya untuk diriku sendiri. Semoga bermanfaat :)
 photo valentine_bottle_love_potion_smiley_zpsd75e638d.gif photo valentine_bottle_love_potion_smiley_zpsd75e638d.gif photo valentine_bottle_love_potion_smiley_zpsd75e638d.gif
 

Rabu, 21 Mei 2014

Tentang Bahagia yang lebih banyak

Aku pernah bilang sama seseorang, begini, "aku punya 1001 cara untuk bahagia, dan salah satunya adalah kamu" dan ketika seseorang itu pergi, entah karna alasan apa, tapi,,,, apapun alasannya dia sudah pergi. Aku pernah meminta seseorang itu untuk kembali padaku, kembali menjadi salah satu cara untuk aku bahagia, aku sudah memperjuangkan seseorang itu sedemikian hingga, tapi seseorang itu tetap berlalu pergi. Meskipun kata "pergi" itu masih ambigu. It's oke, aku masih punya 1000 cara untuk bahagia, bukankah hanya berkurang satu? Dan ini,,,, tentang bahagia yang lebih banyak. 

Bahagia itu sederhana, sesederhana Alloh itu satu dan tanpa sekutu. Dan aku punya banyak cara untuk bahagia, bahagia yang sederhana. Bahagia itu....
Saat aku bangun di pagi hari dengan napas yang sempurna,
Masih sehat,
Lengkap tanpa cacat.


Nonton film lewat dvd dirumah sambil minum teh kotak dingin dan ngemil malkist roma abon, itu bahagia.


Baca buku sambil minum susu ultramilk coklat yang dingin, itu bahagia.


Glasahan dikamar baca novel sambil ndengerin musik, itu bahagia.


Menikmati hujan sambil minum coklat hangat atau teh manis hangat, itu bahagia.


Bermain dan menghabiskan waktu libur bersama my little angel n my little princes, itu bahagia.


Makan bebek kosek ditempat favo bareng temen2 atau my sisters, itu bahagia.


Pergi ke Gramedia sekedar numpang baca atau sampai beli buku, itu bahagia.


Pergi jalan sama temen2 kemana, itu bahagia.


Ngumpul bareng temen2 pengajian kemudian diskusi banyak hal, itu bahagia.


Menikmati proses membuat pola, menjahit sendiri sampai jadi baju siap pake untuk sendiri, itu bahagia.


Nyuci, nyetrika, bebenah, luluran, mandi, melakukan pekerjaan rumah tangga sampai pekerjaan yang remeh temeh, kalau dikerjakan dengan senang hati, itu bahagia.


Bercerita apa saja pada Alloh, sambil berdoa, itu bahagia.


Baca Al-Qur'an pelan2 sambil baca terjemahannya, itu bahagia.


Tiduran sambil fesbukan sambil twitteran, padahal cuma baca2 doang si haha, lanjut bobo cantiq, itu bahagia.


Ngegame candy crush sama onet sambil gulingan dikasur, itu bahagia.


Pergi kekantor, pulang dari kantor setiap hari kerja, kekantor-pulang, kekantor-pulang, itu bahagia.


Becanda dan ngledekin temen buat lucu2an, itu bahagia.


Dan lain-lain.....


Dan sebagainya....


Dan seterusnya.....


Sampai seribu, itu bahagia.


Tapiiiiiii bukan berarti aku tidak pernah sedih, aku justru orang yang suka menarik diri, jadi sedikit introvert kalau lagi sedih, lagi ada masalah atauuuu lagi cengeng2nya sedikit2 pengen nangis aja haha. Aku mengutip kata2 dari sebuah buku, yang bunyinya gini.....
"Jangan pernah engkau berkeluh kesah tentang masalah hidupmu kepada selain Alloh. Tidaklah seseorang yang kamu adukan masalah itu, melainkan ia bisa menjadi teman atau musuhmu, jika ia temanmu, kamu telah membuatnya ikut sedih. Sedang jika ia musuhmu, ia akan mendoakan keburukan untukmu" nah........

Bukan berarti juga aku orang yang anti curhat sama oranglain atau teman, bukan, hanya saja ini lebih mendekati aku, aku nyaman menuliskannya dan menceritakannya pada Alloh. Untuk orang seperti aku yang strong outside (aja), itu pun aku sebut bahagia :D....


Hidup itu seperti dua sisi mata uang, bahagia-sedih, tawa-tangis, kemudahan-kesulitan, nikmat-ujian,,,,,semua digulirkan. Semua terasakan. Semuanya.


"Dan sesungguhnya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis" (QS. An-Najm:43)

"Sesungguhnya Alloh tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun,akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri" (QS. Yunus:44)


Hanya aku dan Alloh, itu cukup, itu bahagia.


Inti dari tulisan ini sederhana, "La tahzan innalloha ma'ana", jangan bersedih Alloh bersama kita. Dan tentang bahagia yang lebih banyak :)


Semoga tidak berlebihan kalau setiap bangun tidur aku selalu menemui cermin untuk bilang “selamat pagi cantik……. :)”,karna…… itu juga bahagia :D


Be happy always and forever....

 

Selasa, 13 Mei 2014

Pengumuman Kematian



  "Telah meninggal dunia bpk/ibu/saudara fulan yg beralamat di...bla bla bla, hari ini jam sekian, akan dikuburkan hari ini jam ini,,,"
Itu sepenggal pengumuman yang sering kudengar. Disekitar tempat tinggalku, setiap ada orang yg meninggal, akan diumumkan seperti itu melalui pengeras suara mushola atau masjid. Aku menyebutnya sebagai pengumuman kematian.

Ada sesuatu yg mendesak setiap ada pengumuman kematian tertangkap oleh pendengaranku, terbayang olehku bagaimana jika nama yang disebut itu, aku, namaku. Yang jelas aku takkan mendengar pengumuman kematian atas diriku sendiri, apa diumumkan atau tidak, karna saat itu tubuhku sudah kaku, jantungku tak lagi berdetak, menunggu dimandikan kemudian disholati, untuk lalu dikubur didalam tanah, yang gelap, pekat, dan sendirian, hanya berbungkus kain kafan........pengumuman ini selalu berhasil membuatku tergugu, menangis tanpa suara....masa dimana aku begitu meresahkan satu hal, yaitu kematian.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS Al Imran ayat 185)

Membayangkan bagaimana menghadapi satu kejadian yang tak bisa diprediksikan waktu, cara dan tempatnya , masih tersisa berapa bulan, minggu, hari, jam atau menit lagi dari sekarang, ini meresahkan buatku. Apapun yang ada didunia ini mungkin sangat bisa dihindari dengan konsekuensi seberat apapun. Tapi kematian? Hari Perhitungan? Tidak ada pilihan sedikitpun untuk bisa menghindarinya! Bahkan dalam Al Qur'an, kelak hampir semuanya meminta dikembalikan ke dunia untuk memperbaiki kesalahan, taaapiiiiiii...there's no second change!!! Menjadi kegelisahan yang berlipat2 bagiku.

Setiap kali menyaksikan orang2 terdekat sampai dibatas "jatah hidup", menyaksikan setiap proses yang "harus" mereka lalui sampai tubuhnya yang hanya berbungkus kain kafan itu tak lagi tampak oleh mata, begitu mengaduk2 perasaanku, rasanya seperti menggila dalam kegelisahan, kecemasan, keresahan. Membuatku sangat concern dengan pertanyaan apakah aku berhasil menjalani kehidupan ini dengan SELAMAT? bukan lagi SUKses yang kupikirkan, Tapi SELAMAT.

Aku teringat dengan status wa temenku tapi lupa kata2 pastinya, kurang lebihnya mungkin begini “kematian jauh lebih pasti daripada urusan jodoh”. Saat itu aku menyanggah bahwa keduanya urusan yang pasti, sama2 butuh persiapan yang baik. Tapiiiiii…..saat aku tau ada temenku meninggal dan belum menikah, dan diluar sana juga mungkin banyak yang belum ketemu dengan jodohnya tapi sudah harus selesai “jatah hidup”nya, aku tidak tau harus merasa bagaimana, karna jujur aku masih berjibaku dengan masalah “dimana” dan “siapa” jodohku itu. Sedangkan kematian, bisa menjemputku kapan saja tanpa pemberitahuan, tanpa mau tau apakah aku sudah ketemu jodoh atau belum. Aku malu!

Kita,,eh aku, harus lebih banyak lagi merenung, bertafakur, mencoba membuka pikiran dan menjernihkan hati,, agar kompas kebenaran dalam hati, selalu menunjuk ke arah yang sebenarnya. Kedepan, orientasinya bukan lagi memperbanyak perbincangan sia2 dengan teman, bukan dimedia sosial, tapi lebih ke- perbincangan diri, perbincangan dengan Alloh. Untuk bertanya tentang nilai2 kehidupanku selama ini, apakah bisa menyelamatkanku nantinya? jika belum, aku harus lebih "serius" lagi memohon agar dituntun untuk berada dijalan yang benar, yang menyelamatkan. 


Dengan terus melakukan hal2 kecil bermanfaat, menjauhkan diri dari hal yang sarat dengan maksiat, mem “protect” hati dari berbagai “virus” yang mematikan hati, melakukan kebaikan2 kecil yang disertai keikhlasan yang besar, beristighfar setiap waktu atas pilihan2 tak sempurna yang kuputuskan saat menghadapi masalah, ke "lugu" anku belajar dan ketulusanku menerima perlakuan dari beragam orang tanpa memandang perbedaan, mengasah kepekaanku terhadap perasaan orang lain, membangun kekuatan untuk mengalahkan ego diri....bahkan ditengah hiruk pikuk dimana semua orang mempunyai kebenaran "versi" mereka. Aku,,, dengan nilai2 hidup yang "terlalu" sederhana ini, memberanikan diri menghadapi kematian. Semoga bisa khusnul khotimah...aamiin:)

Rabu, 07 Mei 2014

Mari bicara Nature dan Nurture


Aku tertarik dengan artikel tentang apa itu Nature dan Nurture, aku coba menuliskan apa yang aku baca dari berbagai sumber, tulisan ini menggunakan bahasa sendiri, semoga tidak menghilangkan makna yang sebenarnya tapi bisa mengikat makna, minimal untuk diriku sendiri :D dan tulisan ini sebenarnya sudah lama sekali ada di note, menunggu untuk dituangkan hehe…

Nature merupakan perilaku manusia yang muncul dari dalam dirinya sendiri , perilaku ini dihasilkan dan diprogram oleh kode genetik orangtua kita masing2, atau bisa dibilang Nature ini adalah sifat bawaan sejak lahir.

Nurture merupakan perilaku manusia yang terbentuk dan bisa dikembangkan berdasarkan pengaruh yang ia terima dari lingkungannya, pengaruh dari rangsangan2 eksternal terhadap sensor2 yang ada dalam dirinya, bisa berasal dari pengalaman2 yang dialami, termasuk juga ilmu pengetahuan yang dimiliki.

Seberapa besar Nature dan Nurture mempengaruhi karakter manusia? Pepatah “setali tiga uang” biasanya dihubungkan dengan sifat bawaan anak yang tidak beda jauh dari sifat orangtuanya. Aku tidak akan membahas bagaimana sebuah sifat fisik bisa menurun, ini sudah dijelaskan oleh ilmu biologi, bahwa sifat genetik dibawa oleh gen didalam setiap sel ditubuh kita yang terkandung dalam rangkaian DNA (Deoxiribo Nucleid Acid). Nah,,,, pertanyaannya adalah apakah karakter juga diturunkan melalui genetik?

Kalau kita memperhatikan perkembangan seorang anak, pada diri mereka terdapat berbagai macam sensory/ inderawi yang lalu kita sebut dengan istilah nature, ada sensory system (bagian dari organ tubuh seperti; mata, telinga, mulut, hidung, kulit), sensory neuron (yang membawa sinyal dari reseptor dan mengirimkan informasi tentang lingkungan ke pusat-pusat pengolahan di otak dan sumsum tulang belakang), sensory receptor (organ yang memiliki ujung syaraf), sensory perception (kesadaran, respon tanggap/ sense), dan sensory ecology (bagaimana organisme memperoleh dan menanggapi informasi).

Di sisi lain, lingkungan semasa perkembangan anak menyediakan rangsangan-rangsangan terhadap sensory tersebut, baik berdasarkan suatu desain tertentu maupun alami (nurture). Maka disinilah arti dan peran penting bagaimana rangsangan-rangsangan yang tepat untuk mengembangkan ketiga faktor penting yang menyangkut perkembangan anak, yaitu afektif (meliputi perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai), intelektual (meliputi aktivitas otak), dan psikomotor (meliputi keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak). Mau menuju kearah mana perkembangan anak, sangat tergantung kepada bagaimana rangsangan-rangsangan tersebut didesain dan muncul secara alami dalam interaksi yang alami pula. Kedua desain rangsangan sensori tersebut akan selalu menyertai perkembangan anak sejak lahir hingga dewasa, mulai dari lingkungan keluarga hingga lingkungan masyarakat.

Mendidik anak sebenarnya tak sesulit yang kita bayangkan, namun juga tak semudah membalikkan telapak tangan. Satu hal yang membuat pendidikan menjadi mudah, karena kunci utamanya ternyata hanyalah keteladanan; namun hal itu menjadi sulit, karena menjadi teladan berarti berjuang untuk mengubah kebiasaan. Pikiran adalah kekuatan paling dahsyat. Begitu pula dalam dunia anak. Segala bentuk pikiran yang terlintas dalam pikiran mereka setiap hari akan mempengaruhi semua aspek kehidupan mereka. Sikap, pilihan, kepribadian dan siapa mereka sebagai individu, adalah produk dari pikiran-pikiran tersebut. Itulah mengapa sebagai orang dewasa khususnya orangtua, harus lebih jeli memilih kata dan ekspresi yang tepat agar berpengaruh baik terhadap anak-anak. Apapun kondisi Nature dan Nurture-nya, yang dibutuhkan seorang anak adalah pengertian dan empati.

Jadi, nature itu menjelma seperti raga sedangkan nurture menjelma seperti jiwa, yang keduanya sama2 berpengaruh pada diri manusia, berpengaruh seimbang dan saling melengkapi, nature berpengaruh terhadap karakter fisik/sikap dan nurture berpengaruh terhadap karakter kepribadian, kalau dari jawaban Dr. Donald Hebb, seorang pakar psikologi dari Kanada tentang nature dan nurture adalah "Which contributes more to the area of a rectangle, its length or its width? ", dari jawaban itu kita bisa ilustrasikan seperti menggambar sebuah bangun datar persegi, dimana sisi panjangnya kita sebut nature dan sisi lebarnya kita sebut nurture. Bila kita menghapus salah satu sisinya, maka kita tidak bisa lagi menyebutnya sebagai persegi. Atauuuu… bila kita menggambar salahsatu sisinya lebih panjang dari sisi yang lain, maka gambar tersebut juga tidak bisa kita sebut sebagai persegi. Begitulah peran nature dan nurture, tidak ada yang lebih besar atau lebih kecil, melainkan sama besarnya.

Setelah mengetahui peran nature dan nurture, yang ud jadi orangtua bisa lebih tanggap lagi terhadap perkembangan anaknya, mau kita arahkan kemana anak2 itu, pun kita yang sudah dewasa, penting untuk kita memperbaiki kualitas diri dengan lebih jeli lagi memilih lingkungan yang positif, lebih selektif lagi menerima berbagai informasi yang datang dari luar diri kita. Kurang lebihnya begitu :)

Jumat, 02 Mei 2014

Jika Saja



Jika saja mencintaimu adalah sebuah perlombaan, siapa yang lebih dulu mengatakan cinta padamu maka ia akan memilikimu, aku pasti kalah.

Jika saja menyayangimu adalah sebuah pertunjukkan, siapa yang bisa menunjukkan perhatian paling baik dan terus menerus maka ia akan mendapatkan hatimu, aku pasti tersingkir.

Jika saja begitu, aku akan atau mungkin sudah kalah, karna aku tak bisa mengatakan cinta didepanmu hanya untuk memilikimu dalam kebersamaan semu.

Jika saja begitu, aku akan atau mungkin sudah tersingkir dari pertunjukkan, karna aku memang tak bisa menunjukkan perhatian yang tampak oleh matamu, aku hanya bisa memperhatikanmu diam2, menjagamu dengan cara mendoakanmu dalam senyap, itu saja.
Half Purple and Blue Butterfly