Sabtu, 26 Juli 2014

Realitas yang berbeda

Hiruk pikuk pilpres awal ramadhan lalu sampai hari ini belum juga mereda, isu2 politik bahkan semakin memanas, entah kehebohan macam apa yang sebenarnya terjadi disana. Disisi lain, kepadatan arus mudik yang "rutin" terjadi ini banyak menyita perhatian, macet dimana mana, padat merayap, berbagai kendaraan mengular dijalan2 dan tak lupa angka kecelakaan yang juga setiap hari menunjukkan jumlahnya. Realitas ini bikin galau, aku bingung dengan pilpres kali ini, bukankah negeri ini butuh segera dipimpin, tapi kenapa orang2 politik itu malah masih saja sibuk "gontok2an", aneh. Kalau untuk arus mudik, aku si ga mudik, tapi liat berita2 mudik diTV, berita2 kecelakaan, itu cukup mengaduk aduk perasaan.

Dan tanpa sadar, kita telah sampai dipenghujung Ramadhan. Meskipun realitas yang ada tak mungkin terbantahkan. Tapi ada realitas yang berbeda yang bisa ditemukan di banyak masjid, di sepuluh hari terakhir ramadhan, dimana disini, dimasjid2 yang menyelenggarakan itikaf, kita diajak mendekat, sedekat-dekatnya pada Tuhan kita, Alloh. Disetiap sudut masjid yang terdengar hanya lantunan ayat2 cinta, kita bisa menyaksikan beragam orang yang datang darimana saja, dengan berbagai perbedaan yang ada, tapi lihat, meskipun berbeda, semua membaca surat cinta yang sama, Al-Quran. Meskipun banyak perbedaan tapi lihat, saat sholat, kita tetap melakukan gerakan yang sama, bukan? Karena Islam itu indah, dan aku bangga menjadi muslimah.

Dari masjid ini, Masjid Fathimatuzahra, tempat aku ikut itikaf, aku menemukan realitas yang berbeda, yang pastinya ngangenin. Agenda itikaf ini aku buat di Ramadhan tahun lalu (dan semoga akan jadi agenda rutin setiap Ramadhan yang kulewati, dimanapun, aamiin), saat aku jomblo, dan berkomitmen untuk tidak pacaran kecuali setelah menikah, ceritanya ini hikmah jomblo haha. Moment2 yang akan aku simpan terus, bertemu dengan mereka semua, tilawah bersama, hapalan, sholat bersama, saur bersama, terlelap tidur "berserakan", munajat2 indah, muhasabah diri, berharap Lailatul Qodar, ngantri dikamar mandi, ngantri wudlu saat masih ngantuk2nya, dll, dll...adalah semua moment yang ngangenin. 

Semoga masih diberi kesempatan berjumpa Ramadhan berikutnya, semoga amal ibadah kita semua dibulan ini menjadi tabungan terbaik yang bisa "membayar" pertemuan kita dengan Alloh kelak, dalam pertemuan yang baik, semoga doa2 terbaik kita dibulan ini mampu "membeli" keajaiban2 dalam hidup ini, yang sakit disembuhkan, yang "terluka" terobati, yang belum ketemu jodohnya segera dipertemukan lalu menikah (itu aku banget, ehehe), paling penting lagi semoga catatan2 dosa kita selama ini dihapus sama Alloh, diampuni dengan sempurna oleh Alloh, dengan bonus kebaikan untuk kita (wiiiiihhhh ini doa yang indah sekali) dan tidak lupa, sebelum ramadhan ini benar2 berakhir, coba tengok lagi kedalam diri kita (aku juga), adakah perubahan kearah yang lebih baik? Ini penting, untuk bekal kita menjalani sebelas bulan setelah ini, agar selama penantian ramadhan berikutnya, kita tetap diberi kemudahan untuk istiqomah menjalankan semua ibadah yang sudah "diperbaiki" diramadhan kali ini, memupuk keberanian lebih kuat lagi untuk menahan diri, menahan hawa nafsu menghindari maksiat2 yg akan lebih "liar" lagi diluar ramadhan, agar bisa lebih tangguh lagi keimanannya, semoga :)

Aamiin aamiin yaRobbal 'alamin.....
  photo genma7_zps275c2543.gif photo genma7_zps275c2543.gif photo genma7_zps275c2543.gif

Kamis, 03 Juli 2014

Pelangi indah itu, untukku :)



Jalan didepan kita mungkin terlihat lurus, mulus, tanpa hambatan, tapi ketika melewatinya kita akan dihadapkan pada kenyataan yang sesungguhnya, kita akan menemukan jalan yang kadang sulit dilalui, mungkin berbatu, yang bisa menggelincirkan kita, mungkin berduri, yang bisa membuat kita menjadi pesakitan, menjadi berdarah2 terluka, atau mungkin juga itu jurang yang dalam yang kita harus jatuh dulu untuk tau apakah kita akan naik merangkak demi melanjutkan perjalanan atau tetap didalam jurang itu, terjebak. Itu pilihan. Dan juga, selalu ada kemungkinan untuk kita menemui jalan yang aman2 saja, lurus2 saja, menyenangkan, tapi tetaplah waspada, karna siapa tau jalan itu licin kemudian bisa membuat kita terpeleset. Jalan hidup kita tetap membentang didepan, mau atau tidak, kita tetap harus melangkahkan kaki memastikan bahwa hidup kita tetap berjalan, tapi tetep boleh berhenti ko, sejenak berhenti, hanya sejenak saja, sebentar, lalu lanjutkan lagi perjalanan.

Hidup itu seperti itu, kadang tak bisa ditebak, jalan didepan kita selalu menjadi rahasia yang harus kita singkap terus menerus, tidak peduli badai menghadang, hujan menerpa. Pun saat melewati jalan bebatu yang seringkali membuat oleng, kita selalu tau kemana harus berpegangan, dan ketika melewati jalan yang penuh duri, menangislah jika kesakitan, tak apa, itu membuat kita lebih kuat lagi. Hal paling parah adalah ketika kita melangkah kemudian jatuh kejurang, kedalamannya bisa bervariasi, tapi kita selalu bisa memilih untuk merangkak naik dan melanjutkan perjalanan demi melihat pelangi yang disiapkan Alloh untuk kita. Dan hal paling menyenangkan adalah saat kita di zona nyaman menyenangkan, yang seringkali membuat kita lalai terlena dalam kesenangan, dan tak siap jika tiba2 jatuh kejurang, itulah kenapa kita harus selalu waspada. Aku seringkali menganalogikan kehidupanku seperti itu, bukankah untuk melihat pelangi kita harus merasakan hujannya dulu, begitulah hidup. Selama kita percaya bahwa Alloh sudah menyiapkan pelangi indah didepan sana, kita harus tetap optimis untuk terus berjalan menuju kesana demi melihat pelangi indah itu. Alloh itu maha baik, rencana Alloh itu selalu indah meskipun jalannya kadang tak seindah yang dibayangkan, Alloh hanya menguji kita, seberapa hebat kita percaya bahwa hanya Dia tempat kita minta tolong, tempat kita menggantungkan segala urusan. Baca ini :  
"Apakah manusia itu mengira, bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan, "kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji?" (QS. Al-Ankabut:2)


Selalulah ingat, bahwa Alloh tidak akan mengijinkan sesuatu terjadi tanpa alasan, apapun yang Alloh ijinkan terjadi adalah kebaikan, dan apapun yang ditetapkan Alloh untuk kita adalah yang terbaik, selama kita mau berprasangka baik padaNya. Kemudian lihatlah, pelangi indah itu untuk kita, untuk aku :)
 
*Catatan ini kubuat untuk meredam perasaanku, aku dalam dilema antara menerima surat tugas untuk pindah kepusat atau Resign.

  photo cz29_zps43687cea.gif photo cz29_zps43687cea.gif photo cz29_zps43687cea.gif
 

Rabu, 02 Juli 2014

Pernahkah?



Pernahkah kamu merindukan seseorang tapi tak mampu mengucap rindu?
Pernahkah kamu merindukan seseorang kemudian tak tau harus bagaimana melampiaskan perasaan rindu itu?
Pernahkah kamu merindukan seseorang tapi hanya bisa tertahan didalam sini? Pernahkah kamu merindukan seseorang yang hanya mampu terucap lirih dalam doa2mu?
Pernahkah kamu merindukan seseorang lalu kemudian hanya bisa menangis sedu sedan, sendirian?
Pernahkah?

 photo yoyo78_zps21d88da7.gif photo yoyo78_zps21d88da7.gif photo yoyo78_zps21d88da7.gif

Merindukan seseorang mungkin bukan sebuah kesalahan, bukan juga sebuah dosa, tapi sepertinya menyakitkan sekali jika kita merindukan seseorang, yang bahkan tidak tau, kalau kita merindukannya. Mau dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap rindu, begitu si yang aku tau. Entah ini sebuah pembelaan atas diri sendiri atau pembenaran perasaan dalam diri, biarlah, biar saja Alloh yang tau.

Semua manusia didunia ini punya porsi sendiri2 tentang rasa rindu, tentang merindu pada seseorang, yang teristimewa, yang terkasih, yang tersayang dan yang ter ter lainnya, dalam konteks apapun perasaan merindu selalu spesial.

Rindu itu abstrak, tak bisa didefinisikan tepat oleh kata2, mungkin bibir mampu mengatakan "aku merindukanmu" tapi esensi sebenarnya dari rasa rindu itu, hanya kita sendiri yang tau, tentang perasaannya kita saja yang mengerti, dan tentang yang ada didalam sini. Jika tak mampu mengatakan, rasa sakitnya bisa sampai kedalam sini.

Jadiiiii,,,, sebaiknya rindu itu dikatakan atau tidak dikatakan??
Aku tak paham dengan caraku mengatakan rindu waktu dulu, yang saat kukatakan rindu kemudian berbalas "miss u too", rasanya sudah seneng pake bingit, padahal aku tidak tau apa sebenarnya yang dirasa oleh si pengucap balasan itu, taunya mateng aja, rinduku berbalas, haha. Makin rindu makin terlena dengan balasannya, sampai akhirnya terjatuh, yangggggg aduhhhh, rasanya juga sakit bingit, ternyata cuma kejebak tipudaya setan, eh tipudaya perasaan. Kok bisa? Iya, bisa, sangat bisa, Karna rinduku terucap pada seseorang yang belum halal untukku, nahhhh,,,,, Apa kesimpulannya adalah rindu itu tidak usah dikatakan? Tentu saja tidak ada kesimpulannya, karna dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap rindu. Coba katakan rindu itu pada orangtua kita, pada kakak adik kita, pada sahabat2 kita pada saudara2 yang jauh disana yang kalau ketemu hanya saat lebaran datang, katakan pada mereka, kemungkinan tak terbalas sangat kecil, karna terbalas ataupun tidak, tidak akan berpengaruh besar pada perasaan kita, betul ngga? Tidak terbalaspun, kita tidak akan malu pada siapapun, tidak akan dibuat galau karna itu, mereka bagian dari kita, diakui atau tidak kita sama2 merindu meski tak saling mengatakan, kita punya jaminan hubungan yang jelas dengan mereka. Bandingkan saja dengan merindukan seseorang yang sudah jelas bukan siapa2 kita, yang bahkan belum ada jaminan hubungan yang jelas, yang jika kita ngotot mengatakannya, pamer mengumbar dimana2, berceceran perasaan rindunya, apa tidak malu saat tau bahwa kita hanya terjebak tipu daya perasaan. Tapi kan, tapi kan, biar tidak nyesek sebaiknya dikatakan, tapi kan, tapi kan, kalau kita tidak mengatakan, orang itu tidak akan tau kita merindukannya. Iya si, tapi pastikan kita mengatakannya pada orang yang tepat. Pikirkanlah.

Catatan ini untuk diriku sendiri, tidak bermaksud menasehati siapapun, tapi jika ini bisa jadi nasehat, akan lebih baik, karna saling menasehati adalah baik, bukan?. Terlepas dari semua itu, justru yang paling membutuhkan nasehat kita adalah diri kita sendiri.

 photo m024_zps9726e50e.gif photo m024_zps9726e50e.gif photo m024_zps9726e50e.gif
Half Purple and Blue Butterfly