Rabu, 02 Juli 2014

Pernahkah?



Pernahkah kamu merindukan seseorang tapi tak mampu mengucap rindu?
Pernahkah kamu merindukan seseorang kemudian tak tau harus bagaimana melampiaskan perasaan rindu itu?
Pernahkah kamu merindukan seseorang tapi hanya bisa tertahan didalam sini? Pernahkah kamu merindukan seseorang yang hanya mampu terucap lirih dalam doa2mu?
Pernahkah kamu merindukan seseorang lalu kemudian hanya bisa menangis sedu sedan, sendirian?
Pernahkah?

 photo yoyo78_zps21d88da7.gif photo yoyo78_zps21d88da7.gif photo yoyo78_zps21d88da7.gif

Merindukan seseorang mungkin bukan sebuah kesalahan, bukan juga sebuah dosa, tapi sepertinya menyakitkan sekali jika kita merindukan seseorang, yang bahkan tidak tau, kalau kita merindukannya. Mau dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap rindu, begitu si yang aku tau. Entah ini sebuah pembelaan atas diri sendiri atau pembenaran perasaan dalam diri, biarlah, biar saja Alloh yang tau.

Semua manusia didunia ini punya porsi sendiri2 tentang rasa rindu, tentang merindu pada seseorang, yang teristimewa, yang terkasih, yang tersayang dan yang ter ter lainnya, dalam konteks apapun perasaan merindu selalu spesial.

Rindu itu abstrak, tak bisa didefinisikan tepat oleh kata2, mungkin bibir mampu mengatakan "aku merindukanmu" tapi esensi sebenarnya dari rasa rindu itu, hanya kita sendiri yang tau, tentang perasaannya kita saja yang mengerti, dan tentang yang ada didalam sini. Jika tak mampu mengatakan, rasa sakitnya bisa sampai kedalam sini.

Jadiiiii,,,, sebaiknya rindu itu dikatakan atau tidak dikatakan??
Aku tak paham dengan caraku mengatakan rindu waktu dulu, yang saat kukatakan rindu kemudian berbalas "miss u too", rasanya sudah seneng pake bingit, padahal aku tidak tau apa sebenarnya yang dirasa oleh si pengucap balasan itu, taunya mateng aja, rinduku berbalas, haha. Makin rindu makin terlena dengan balasannya, sampai akhirnya terjatuh, yangggggg aduhhhh, rasanya juga sakit bingit, ternyata cuma kejebak tipudaya setan, eh tipudaya perasaan. Kok bisa? Iya, bisa, sangat bisa, Karna rinduku terucap pada seseorang yang belum halal untukku, nahhhh,,,,, Apa kesimpulannya adalah rindu itu tidak usah dikatakan? Tentu saja tidak ada kesimpulannya, karna dikatakan atau tidak dikatakan, itu tetap rindu. Coba katakan rindu itu pada orangtua kita, pada kakak adik kita, pada sahabat2 kita pada saudara2 yang jauh disana yang kalau ketemu hanya saat lebaran datang, katakan pada mereka, kemungkinan tak terbalas sangat kecil, karna terbalas ataupun tidak, tidak akan berpengaruh besar pada perasaan kita, betul ngga? Tidak terbalaspun, kita tidak akan malu pada siapapun, tidak akan dibuat galau karna itu, mereka bagian dari kita, diakui atau tidak kita sama2 merindu meski tak saling mengatakan, kita punya jaminan hubungan yang jelas dengan mereka. Bandingkan saja dengan merindukan seseorang yang sudah jelas bukan siapa2 kita, yang bahkan belum ada jaminan hubungan yang jelas, yang jika kita ngotot mengatakannya, pamer mengumbar dimana2, berceceran perasaan rindunya, apa tidak malu saat tau bahwa kita hanya terjebak tipu daya perasaan. Tapi kan, tapi kan, biar tidak nyesek sebaiknya dikatakan, tapi kan, tapi kan, kalau kita tidak mengatakan, orang itu tidak akan tau kita merindukannya. Iya si, tapi pastikan kita mengatakannya pada orang yang tepat. Pikirkanlah.

Catatan ini untuk diriku sendiri, tidak bermaksud menasehati siapapun, tapi jika ini bisa jadi nasehat, akan lebih baik, karna saling menasehati adalah baik, bukan?. Terlepas dari semua itu, justru yang paling membutuhkan nasehat kita adalah diri kita sendiri.

 photo m024_zps9726e50e.gif photo m024_zps9726e50e.gif photo m024_zps9726e50e.gif

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Half Purple and Blue Butterfly