Aku ingat hari pertama kita berkenalan.
Aku ingat bagaimana caramu mendekatiku dan mengajakku makan malam pertama kalinya waktu itu.
Aku ingat sekali bagaimana caramu membuatku memperhatikanmu saat aku terlalu sibuk dengan urusanku.
Aku ingat sekali bagaimana caramu cemburu pada laki laki yang mencoba dekat denganku.
Aku ingat bagaimana kita bercerita tentang masa depan dan sangat ingat bagaimana kita selalu memiliki imajinasi yang serupa.
Aku ingat bagaimana kamu berjanji, meski sampai hari ini kamu tidak berusaha mewujudkannya.
Aku ingat bagaimana kamu membuatku ngambek dan kadang-kadang kamu mengabaikanku.
Aku juga ingat bagaimana aku membuatmu jengkel dan kadang-kadang aku mengabaikanmu.
Aku ingat betapa banyak sekali yang mengagumimu, lalu sesekali aku merasakan keberuntungan ada di dekatmu.
Aku ingat juga saat kita sedih pada cerita yang sama dan kita bercanda pada lelucon yang itu-itu saja.
Aku ingat sekali semua kata kata jaminanmu agar aku terus bertahan bersamamu.
Aku juga ingat sekali saat-saat kamu mulai menjauh pergi dariku.
Aku ingat sekali momen saat aku kecewa, dan pada kenyataannya kamu tidak ada dan tidak berusaha ada.
Aku juga ingat momen saat kamu kecewa, dan aku hanya diam lalu tak ingin membalas semua pesanmu.
Aku ingat sekali saat kamu menciumku dan memelukku seolah kita tak akan terpisahkan.
Aku ingat sekali caramu bermanja-manja padaku setelah sekian lama kamu berada jauh dariku.
Aku ingat sekali kita bisa bercerita apa saja selama berjam-jam sampai lupa waktu.
Aku ingat sekali saat aku memohon padamu tentang hubungan kita sambil berderai airmata, dan kamu tak memberiku penjelasan berarti.
Aku ingat sekali saat kamu menghapus airmataku yang akhirnya aku tau itu adalah salam perpisahan darimu.
Aku ingat sekali saat kamu menggendongku, dan saat kamu menurunkanku dari gendonganmu, bahasa tubuhmu mengatakan bahwa semuanya sudah berakhir.
Aku ingat sekali saat aku begitu menggila merindukanmu, tapi kamu terlihat lebih bahagia setelah meninggalkanku.
Aku ingat sekali saat kamu bersenang-senang sedang aku menjadi gila dalam kesedihanku sampai hari ini.
Aku ingat semuanya. Selalu ingat dan bahkan sulit menghentikan semua yang aku ingat.
Lihat… betapa banyak ingatanku tentangmu.
Dan ketika pada kenyataannya aku harus dipaksa melupakan semuanya.
Aku bingung!
Aku menyerah dan memilih ingat saja. Tapi tak ingin melibatkanmu dalam urusan ini.
Aku bohong saat aku bilang sudah move on, karna Aku butuh seumur hidupku untuk menghapus semua ini.
Jadi, Sekarang kamulah yang harus ingat bahwa aku terus berusaha memaafkanmu tanpa kamu memintanya.
*Entah kapan aku menulis ini, aku lupa. Tapi setelah dibaca, ko bagus ya... haha.