Selasa, 13 Mei 2014

Pengumuman Kematian



  "Telah meninggal dunia bpk/ibu/saudara fulan yg beralamat di...bla bla bla, hari ini jam sekian, akan dikuburkan hari ini jam ini,,,"
Itu sepenggal pengumuman yang sering kudengar. Disekitar tempat tinggalku, setiap ada orang yg meninggal, akan diumumkan seperti itu melalui pengeras suara mushola atau masjid. Aku menyebutnya sebagai pengumuman kematian.

Ada sesuatu yg mendesak setiap ada pengumuman kematian tertangkap oleh pendengaranku, terbayang olehku bagaimana jika nama yang disebut itu, aku, namaku. Yang jelas aku takkan mendengar pengumuman kematian atas diriku sendiri, apa diumumkan atau tidak, karna saat itu tubuhku sudah kaku, jantungku tak lagi berdetak, menunggu dimandikan kemudian disholati, untuk lalu dikubur didalam tanah, yang gelap, pekat, dan sendirian, hanya berbungkus kain kafan........pengumuman ini selalu berhasil membuatku tergugu, menangis tanpa suara....masa dimana aku begitu meresahkan satu hal, yaitu kematian.

"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan kedalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS Al Imran ayat 185)

Membayangkan bagaimana menghadapi satu kejadian yang tak bisa diprediksikan waktu, cara dan tempatnya , masih tersisa berapa bulan, minggu, hari, jam atau menit lagi dari sekarang, ini meresahkan buatku. Apapun yang ada didunia ini mungkin sangat bisa dihindari dengan konsekuensi seberat apapun. Tapi kematian? Hari Perhitungan? Tidak ada pilihan sedikitpun untuk bisa menghindarinya! Bahkan dalam Al Qur'an, kelak hampir semuanya meminta dikembalikan ke dunia untuk memperbaiki kesalahan, taaapiiiiiii...there's no second change!!! Menjadi kegelisahan yang berlipat2 bagiku.

Setiap kali menyaksikan orang2 terdekat sampai dibatas "jatah hidup", menyaksikan setiap proses yang "harus" mereka lalui sampai tubuhnya yang hanya berbungkus kain kafan itu tak lagi tampak oleh mata, begitu mengaduk2 perasaanku, rasanya seperti menggila dalam kegelisahan, kecemasan, keresahan. Membuatku sangat concern dengan pertanyaan apakah aku berhasil menjalani kehidupan ini dengan SELAMAT? bukan lagi SUKses yang kupikirkan, Tapi SELAMAT.

Aku teringat dengan status wa temenku tapi lupa kata2 pastinya, kurang lebihnya mungkin begini “kematian jauh lebih pasti daripada urusan jodoh”. Saat itu aku menyanggah bahwa keduanya urusan yang pasti, sama2 butuh persiapan yang baik. Tapiiiiii…..saat aku tau ada temenku meninggal dan belum menikah, dan diluar sana juga mungkin banyak yang belum ketemu dengan jodohnya tapi sudah harus selesai “jatah hidup”nya, aku tidak tau harus merasa bagaimana, karna jujur aku masih berjibaku dengan masalah “dimana” dan “siapa” jodohku itu. Sedangkan kematian, bisa menjemputku kapan saja tanpa pemberitahuan, tanpa mau tau apakah aku sudah ketemu jodoh atau belum. Aku malu!

Kita,,eh aku, harus lebih banyak lagi merenung, bertafakur, mencoba membuka pikiran dan menjernihkan hati,, agar kompas kebenaran dalam hati, selalu menunjuk ke arah yang sebenarnya. Kedepan, orientasinya bukan lagi memperbanyak perbincangan sia2 dengan teman, bukan dimedia sosial, tapi lebih ke- perbincangan diri, perbincangan dengan Alloh. Untuk bertanya tentang nilai2 kehidupanku selama ini, apakah bisa menyelamatkanku nantinya? jika belum, aku harus lebih "serius" lagi memohon agar dituntun untuk berada dijalan yang benar, yang menyelamatkan. 


Dengan terus melakukan hal2 kecil bermanfaat, menjauhkan diri dari hal yang sarat dengan maksiat, mem “protect” hati dari berbagai “virus” yang mematikan hati, melakukan kebaikan2 kecil yang disertai keikhlasan yang besar, beristighfar setiap waktu atas pilihan2 tak sempurna yang kuputuskan saat menghadapi masalah, ke "lugu" anku belajar dan ketulusanku menerima perlakuan dari beragam orang tanpa memandang perbedaan, mengasah kepekaanku terhadap perasaan orang lain, membangun kekuatan untuk mengalahkan ego diri....bahkan ditengah hiruk pikuk dimana semua orang mempunyai kebenaran "versi" mereka. Aku,,, dengan nilai2 hidup yang "terlalu" sederhana ini, memberanikan diri menghadapi kematian. Semoga bisa khusnul khotimah...aamiin:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Half Purple and Blue Butterfly