Selasa, 04 Februari 2014
tentang meReka yang beRgelaR "oRangtua"
Pernahkah kita mengeluh kenapa punya orangtua seperti orangtua kita yang sekarang?
Aku pernah.
Apa kalian pernah?
Entah kita sadari atau tidak,,,,
Lisan kita sering kali latah. Latah yang salah kaprah. Kita sering menyesal dan merasa sangat tidak beruntung dengan kondisi bapak ibu kita. Yang suka marah, yang tidak selalu bisa menuruti keinginan kita, yang kepintarannya tidak seberapa, yang sering melarang kita ini itu, atau bahkan, yang lupa mengajarkan kita ilmu agama.
Seringkali kita membandingkan bapak ibu kita dengan bapak ibu yang lain, selalu saja membandingkan, kenapa tidak seperti ini saja, kenapa tidak seperti itu saja, bisakah begini, bisakah begitu, semuanya, semuanya selalu
kurang dimata kita, semuanya selalu serba salah dalam penerimaan kita.
Betapa egoisnya kita terhadap mereka, hanya karena “ketidakkerenan” mereka, nihilnya pangkat (di mata manusia), harta warisan yang tidak seberapa, atau bahkan mungkin tidak meninggalkan apa-apa selain nama. Membuat kita kalap dan merasa menjadi manusia yang paling tersisih diantara yang lainnya.
Betapa acuhnya kita terhadap mereka, hanya karena ketidakpahaman mereka atas jalan hidup yang kita pilih, cita-cita, mimpi, atau mungkin sekedar hasrat dunia yang tidak sejalan dengan benak mereka, membuat kita merasa menjadi makhluk paling tidak beruntung di dunia karena memiliki orangtua seperti mereka.
Betapa miskinnya rasa syukur kita terhadap mereka, hanya karena ketidaksabaran mereka dengan amarah, mungkin memang begitulah karakter mereka. Masalahnya mungkin adalah ketidakmampuan kita mengimbangi kerasnya mereka. Tapi kita terlalu buru-buru menghakimi mereka, kita begitu tergesa-gesa menunjuk bahwa merekalah biang keladinya.
Kecewa ya?
Mungkin memang ada banyak baris kekecewaan mendalam dihati kita dengan segala kekurangan yang ada pada mereka. Hingga ego kita menjadi rajanya.
Sampai-sampai kita lupa,,,,,
Kita lupa, bahwa kita tidak pernah diberi kesempatan untuk memilih, apalagi request mau lahir dari orang tua yang sempurna, sesempurna yang kita mau. Betapa kasih sayang kita mudah silau dengan perbendaharaan dunia.
Kita lupa, bukankah kesabaran mereka sudah terbukti sehingga kita sebesar sekarang? Adakah mereka berharap upah berjuta-juta rupiah saat membesarkan kita? Apa pernah kita bertanya pada hati kita tentang itu?
Kita lupa, bahwa kita tidak pernah mampu menebak perasaan terdalam orang tua kita. Untuk kamu yang di perantauan misalnya, pernahkah kamu bertanya pada ibumu, bagaimana cara naluri mereka berbicara saat kamu jatuh sakit. Kamu sembunyikan rasa sakitmu, tanpa kabar, dan berdalih baik-baik saja lewat suara sengau di balik ponsel. Tanpa kamu tau, jauh di seberang sana, ada manusia yang ikut merasakan tidak enaknya. Entahlah, ini sebuah frekuensi atau vibrasi macam apa, dengan media hantar yang bagaimana. Entah ada hormon atau enzim semacam apa yang hanya dimiliki oleh mereka, para orang tua, sehingga kadang mereka bisa lebih hebat menebak perasaan kita. Betapa kita sering abai tentang perasaan mereka.
Kita lupa, seburuk apapun kondisi mereka, hak tertinggi mereka adalah untuk tidak didurhakai oleh kita, tidak lantas terhapus begitu saja. Mereka tetap berhak mendapat mahkota surga atas bakti kita, atas keshalihan kita, atas ketakwaan kita. Jika kita mau hitung-hitungan menggunakan logika ekonomi dan matematika, dengan kita penuhi hak itu, minimal, kita bisa membayar "jasa" didik dan asuhan mereka selama ini, menebus keringat dan tenaga yang sudah kita hisap dari mereka sampai kita sebesar ini. Dan jika kita mau menggunakan logika Gregor Mendel tentang pewarisan sifat, semua itu ibarat katalisator dalam rekayasa genetika yang bisa melahirkan generasi yang berbakti kepada orang tuanya, seperti piala bergilir, kitapun akan mendapatkannya dari anak-anak kita kelak. Atau, jika kita mau mengabaikan berbagai logika kita selama ini dan meredamnya, maka puncak tertinggi tujuan kita adalah untuk memperjuangkan setitik keridhaan-Nya. Betapa kita sering lupa tentang itu.
Masihkah pantas kita mengeluhkan tentang mereka?
Sudahi, tolong sudahi! Selagi masih punya kesempatan untuk berbakti pada mereka, orangtua kita, jangan lewatkan kesempatan itu.
Kita memang tidak pernah bisa memilih lahir dari orangtua seperti apa dan keluarga yang mana.
Tapi kita masih bisa belajar,,,,
Belajar menjadi seorang anak yang lebih baik lagi. Menjadi anak kebanggaan mereka, sepaket kalau bisa, kebanggaan di dunia dan di akhirat. Aamiin.
Belajar menjadi orangtua dari orangtua kita atau mungkin dari orangtua lain disekitar kita , karna kelak kitapun akan menjadi orangtua.
Belajar dari kehidupan ini, belajar membuat perubahan, membangun apa yang belum dibangun oleh orangtua kita, menciptakan apa yang belum diciptakan dalam keluarga kita, menyempurnakan apa yang belum baik untuk saat ini, dan kita masih bisa belajar apapun dari keadaan ini.
Kita tidak pernah terlambat untuk memulainya, meskipun orang lain telah memulai lebih dulu. Kadang kehidupan memang begitu, tidak untuk saling mendahului, tapi untuk saling mengajarkan. Kita bisa belajar dari kehidupan yang lain untuk kehidupan kita.
Jika kita pernah menyaksikan orang lain memiliki orangtua yang begitu bijaksana. Kehidupan keluarga yang hangat. Dan kita merasa tidak memilikinya. Maka, berjanjilah pada diri sendiri, bahwa kelak ketika kita menjadi orangtua. Kita akan menciptakan semua itu untuk anak-anak kita.
Jika kita pernah menyaksikan teman sebaya kita begitu baik budinya sebab pengajaran orangtuanya. Memiliki pilihan-pilihan hidup yang lebih banyak dan mampu mendiskusikannya dengan orangtua. Sementara kita tidak. Maka, berjanjilah pada diri sendiri, bahwa kelak ketika kita menjadi orang tua. Kita akan mendidik anak kita dengan sebaik-baiknya. Menjadi orang tua yang bijaksana dan dekat dengan anak-anak. Bisa saling bercerita dan saling terbuka.
Mulai sekarang, perhatikan dengan detail pola asuh bapak dan ibu kita, hal baik apa saja yang mereka wariskan, kemudian wariskan juga kepada anak-anak kita di masa mendatang. Perhatikan juga dengan detail apa saja yang mungkin terlewat oleh mereka, kemudian jangan biarkan anak-anak kita nanti melewatkannya juga. Perhatikan dengan detail, agar kelak kita tahu hendak mendidik anak-anak kita dengan cara bagaimana.
Dan Aku?
Aku mulai tau, aku mulai paham, aku mulai mengerti. Bagaimanapun keadaan mereka, bagaimanapun watak mereka dan bagaimanapun semua tentang mereka, aku pernah tumbuh dirahim ibuku, dilahirkan oleh ibuku dengan bertaruh nyawa, dibesarkan dengan keringat bapakku dan darah ibuku. Semua sudah mereka lakukan, demi aku, anaknya.
Aku,,,, akan terus belajar lebih banyak lagi.
Bapak,,, ibu,,,, maafkan aku, aku mencintaimu, kalian adalah orangtua terhebat dalam hidupku,,,,,
Terakhir,,,
Semoga Alloh mengampuni bapak ibu yang “tidak baik”, yang menyia-nyiakan anaknya. Tapi semoga Alloh memberi ampunan yang jauh lebih besar kepada anak manusia yang sempat merasakan kasih sayang orangtua, tetapi kemudian menyia-nyiakannya. Aamiin.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar