Inspirasi tulisan ini dari krisis yang melanda hatiku, eh, krisis yang terjadi disekitar ding. Masih ingat isi debat capres-cawapres pertama dan kedua kemarin? Aku malah tidak nonton, haha, hanya saja setelah, bahkan saat berlangsungnya acara itu, krisis status melanda, semua status di bbm, WA, facebook, twitter, dan mungkin sosial media lainnya, membahas itu, iya, tentang debat itu, tentang milih siapa dan siapa, tentang profil si ini dan si itu. Di kantor tempat kerjaku, ruangan kerja yang biasanya hangat seketika disulap jadi ruang panwaslu dadakan dan panas, dimana yang ini ngomong ini, yang itu ngomong itu, yang ini bela ini, yang itu bela itu, dan tentang ini lalu tentang itu. Sadar atau tidak, hampir semua orang berkampanye mmmhhhhhh…..
Kenapa si, mesti ada acara debat2 kek gitu, kalo akhirnya jadi perdebatan dimana2. Debat itu apa si?
Kalau menurut kamus besar bahas Indonesia (KBBI), de·bat /débat/ n pembahasan dan pertukaran pendapat mengenai suatu hal dengan saling memberi alasan untuk mempertahankan pendapat masing-masing.
Mempertahankan pendapat masing2, nahhh,,, apa si pendapat dari si ini dan si itu? aku juga tidak tau, kan ga nonton, lagipula aku tidak akan berkampanye disini, hehe. Tapi apapun pendapat yang mereka sampaikan, semoga bisa menjadi pegangan mereka saat menjabat nanti, menjadi kompas yang mengarah kepada kebenaran yang hakiki akan kemana mereka membawa negara tercintah kita ini, Indonesia. Memperbaiki apasaja yang belum baik, membenahi apa saja yang perlu dibenahi dannnnnnnn ……..bisa menghentikan, kalau bisa menghilangkan sekalian saja krisis2 yang sedang terjadi, sudah terjadi dan antisipasinya agar tak terjadi lagi, agar krisis tak semakin kritis dan serius.
Krisis moral, kalian pasti tau kasus yang terjadi di sekolah paling nge-top di Jakarta sana, kasus “emon” yang juga terjadi dimana saja, yang tersentuh pemberitaan sudah sangat banyak, entah yang tak tersentuh, korbannya anak2 dibawah umur, generasi penerus yang seharusnya bisa diberikan pemahan terbaik demi janji masa depan yang lebih indah, tapi malah diberi trauma yang sedemikian rupa, miris. Belum lagi kejahatan kriminal yang lain, pencurian, perampokan, penculikan, pembunuhan2 yang makin marak menjadi fenomena sosial, seakan itu hal wajar dan “tak masalah”, dannnnnnnnnn kejahatan yang sedang nge-trend dan selalu nge-trend, korupsi. Semua pelaku kejahatan2 itu bisa dari berbagai kalangan, tak pandang latar belakang, dari lingkungan terkumuh sampai lingkungan ter-elit bisa jadi pelaku, lihat saja daftar manusia2 tersangka korupsi yang sudah tercatat oleh KPK, dari pegawai kecamatan, akademisi, penguasa bank, para wakil rakyat, bahkan yang paling mencengangkan adalah orang terpenting di kementerian agama, tercatat! Dan apakah akan semakin panjang daftar itu? entahlah, silahkan tanya pada rumput yang bergoyang. Karna sampai sekarang pun aku tidak tau harus merasa bagaimana, ga penting juga si apa yang aku rasa, haha. Tapi bukankah ini krisis moral yang serius? Jadi hei, siapapun yang “menang” di pemilu besok, si ini atau si itu, tolong ya, krisis moral ini harus sesegera mungkin “disembuhkan” agar tak makin parah dan tak makin serius “sakitnya”. Ini justru krisis paling mendasar yang paling dasar, bukan? karena berhubungan langsung dengan manusianya, moral manusia2 yang tinggal dinegara ini. ya kan pak Capres?
Krisis energi, pernah baca tulisan Tere Liye yang ini..
*15 Tahun Lagi
Jika kalian sempat, silahkan buka wikipedia, masukkan kata kunci "list of countries by proven oil reserves". Maka, segera kita tahu, negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia adalah Venezuela, mereka punya 297.000 juta barrel, disusul oleh Arab Saudi, sebesar 267.000 juta barrel. Ada di urutan berapa Indonesia? Hanya di posisi 30, dengan cadangan terbukti 4.000 juta barrel.
Berapa kebutuhan minyak Indonesia per hari? 1,3 juta barrel. Berapa produksi kita saat ini? Mentok di angka 820.000 barrel. Sisanya kita impor. Baik, mari kita berhitung dengan data dan fakta akurat tersebut. Katakanlah konsumsi minyak kita tidak tumbuh, tetap 1,3 juta barrel/hari, secara teoritis, cadangan minyak kita hanya bertahan 3.077 hari saja, alias hanya bertahan 8 tahun. Kabar baiknya, ada kemungkinan kita menemukan cadangan minyak baru, boleh jadi masih ada. Tapi kabar buruknya, setiap tahun jutaan kendaraan bermotor bertambah di jalanan. Mobil misalnya, lebih dari 1 juta unit setiap tahun bertambah. Motor lebih amazing lagi, Kawan, lebih dari 9 juta unit. Belum lagi konsumsi untuk listrik (karena masih banyak pembangkit listrik diesel). Proyeksi paling pemurah sekalipun, hanya berani bilang 15 tahun, maka habis sudah cadangan minyak milik kita.
Sekarang tahun 2014, tambahkan 15 tahun, maka di tahun 2029, kita tidak punya lagi cadangan minyak.
Pertanyaan relevan sekarang adalah: apanya yang akan kita subsidi saat hari itu tiba? Minyaknya sudah habis. Dan dengan konsumsi dunia yang terus meroket, tidak susah membayangkan harga minyak dunia akan semakin tinggi. Berapa harga minyak tahun 2029? Bagi pemilik cadangan besar seperti Venezuela dan Arab Saudi, mereka sih tidak akan pusing. Apalagi negera mereka kecil dibanding kita. Tapi kita? Tahun ini saja, lebih dari 250 trilyun rupiah digunakan untuk subsidi BBM, jika masa tersebut tiba, akan berapa ribu trilyun subsidi BBM diberikan? Habis seluruh uang negara, bahkan tidak akan cukup lagi.
Kita kan bisa menemukan sumber energi lain dong? Iya, itu betul. Brazil misalnya, adalah negara pengguna biodesel terbesar, jutaan mobil disana telah menggunakan biodesel, tapi itu paling hanya 5-6% dari total konsumsi minyak. Tetap saja rakus sekali dengan minyak dari fossil. Juga penggunaan mobil listrik, menjanjikan, tapi hingga hari ini, mayoritas kendaraan bermotor tetap mengonsumsi BBM. Di negara2 maju perkembangan energi terbarukan saja lambat, apalagi negara kita, yang terlambat sekali dalam kebijakan sumber energi terbarukan ini. Sumber daya gas alam, panas bumi, itu bisa jadi solusi juga, tapi tetap saja sifatnya adalah sumber daya yang akan habis.
Maka, apapun pendapat kalian tentang BBM, apapaun pendapat orang2 tentang subsidi BBM, silahkan baca data2 di atas. Jika kalian meragukan akurasi data2 di page ini, silahkan merujuk atau cari sendiri data validnya (biar pada pintar nyari datanya). Itulah realitasnya. Tapi katanya cadangan minyak fossil itu bisa terbarui kok, bisa nambah loh. Well, silahkan tanya ke insinyur tambang, jangan mudah percaya tulisan2 yang tidak jelas asal usulnya. Tapi katanya cadangan minyak kita masih banyak kok, cuma disembunyikan datanya oleh konsipirasi Amerika, lagi2, silahkan tanya ke teman2 kalian yang minimal pernah bekerja di perminyakan, biar tidak termakan propaganda sepihak tanpa analisis. Tapi kok, tapi kok.
Baiklah. Berapa usia kalian hari ini? Katakanlah 20 tahun, maka itu berarti di usia kalian 35, jika panjang umur, kalian akan sempat menyaksikan sendiri negeri ini tidak punya cadangan minyak lagi. Saat itu boleh jadi kebutuhan kita adalah 3 juta barrel per hari (asumsi tiap tahun tumbuh 5%), maka dari mana kita akan memperoleh minyak sebanyak itu? 1 barrel kita mudahkan konversinya jadi 100 liter (angka persisnya akan butuh penjelasan panjang), maka itu berarti kita butuh 300 juta liter per hari. Itu minyak yang banyak sekali. Satu hari saja, 300 juta liter.
Saya tidak akan berdebat soal subsidi 250 trilyun/tahun di negeri ini. Karena kadung pasti banyak yang membahas soal ini dari sudut pandang politik, debat kusir, lupa esensi bahwa setiap hari, krisis energi semakin serius, kita malah asyik bertengkar.
Saya hanya ingin bertanya, 15 tahun lagi, apa yang akan kita subsidi ketika barangnya sudah tidak ada lagi? Apa yang akan kita ributkan ketika semua minyak itu harus kita beli dari luar negeri?
Aku sudah membuka Wikipedia, dan memang begitulah, Indonesia berada diurutan ke- 30. Yang mau buka silahkan buka disini http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_countries_by_proven_oil_reserves
Semoga nanti, setelah pemimpin negeri ini terpilih dan menjabat, tidak ada lagi kecurangan2 dalam hal selundup-menyelundup minyak, seperti yang diberitakan ditengah hiruk pikuk debat ini, bahwa ada sebuah kasus penyelundupan minyak yang ditangkap oleh petugas Bea Cukai Tanjung Balai Karimun, yang entah sudah keberapa kalinya, dan parahnya belum bisa diusut secara tuntas, sehingga kejadian yang sama pun berulang dan kemudian berulang lagi, Berapa banyak kerugian yang dialami negara ini coba, kalau terus2an terjadi, jangan tanyakan padaku, meneketehe. Aku hanya berharap 15 belas tahun kedepan negara ini masih punya cadangan energi, cadangan minyak. Produksi kita bisa bertumbuh terus atau minimal tidak ada pengurangan sedikitpun dari jumlah mentok yang bisa diproduksi, bilang NO untuk penyelundupan, yang kata orang politik ini namanya konspirasi, entahlah konspirasi macam apa, yang aku tau harga BBM terus saja naik2 kepuncak gunung. Jadi kalau bisa, eh harus bisa ding, ada fokus yang baik untuk masalah energi ini, oke pak Capres?
Krisis harga, ini tentang harga kebutuhan pokok, sepertinya sudah mulai naik2 kepuncak gunung, melambung bebas, selangit, amit2. Aku memang belum menjadi ibu rumah tangga sungguhan, tapi kalau untuk urusan “pasar”, belanja beras, gula, telor, sayur, cabe, bawang, sampe yang printil2, garam, harganya naik. Tiga bulan lalu aku beli beras 9.300 per kg, sebulan kemudian 9.500 per kilo, sebulan kemudian 9.700 per kilo, dan bulan ini 10.000 per kilo #tepuk jidat. Belum harga bahan yang lain, belum kebutuhan yang lain, beeeeeuhhhh,,,,,untuk aku yang pemasukannya hanya dari gaji, sedang gaji itu tidak berkolerasi dengan harga2, nahhhh,,,, pusing kan? Padahal aku belum jadi ibu rumah tangga sungguhan. Untuk emak2 sungguhan mungkin sama aja problemnya, hanya saja emak2 sungguhan sudah ada suami dan mungkin ada anak, yang masing2 punya “kebutuhan” yang harus dipenuhi. Sudahlah mari terus bergerak, bergerak agar tidak stress, hehe. Jadi,,,, untuk pak Capres, tolong itu dipikirkan keluhan saya, eh keluhan emak2 tentang harga kebutuhan. Kalau bisa jangan cuma rajin “blusukan” (maaf pak, saya minjem istilahnya), bukan kita tidak butuh kehadiran pak Capres dipasar2, tapi kita justru lebih butuh agar harga kebutuhan pokok jangan dinaikkan, jangan dibiarkan naik2 kepuncak gunung deh.
Pak Capres yang terhormat, yang nanti akan jadi pak Pres, tolong itu krisis2nya dijadikan catatan penting, juga untuk krisis yang lain yang mungkin penting tapi saya tidak menuliskannya disini. Pak Pres pastinya lebih tau dibanding saya, pak Pres bisakan memberikan janji masa depan yang indah, yang lebih indah dari sekedar janji itu sendiri, buat negeri tercinta ini. Semoga yah, aamiin. Salam dari saya pak:)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar