Satu tahun berlalu, aku masih bisa menjalani hidupku. Waktu telah mengajari aku tentang “bertahan”. Waktu telah berbaik hati mengajariku tentang memaafkan. Waktu telah memberiku pemahaman yang baik tentang sudut pandang. Waktu juga yang telah menyembuhkan luka menganga dalam hatiku. Satu tahun telah berlalu….dengan proses yang bagiku tidak mudah dilalui. Bagiku, menahan rasa ingin kembali mendapat perhatian yang "berlebihan", dengan sejuta kesempatan didepan mata, itu sangat tidak mudah, aku harus berperang melawan batin sendiri yang terus bergolak mengingingkannya, sedang hati kecilku terus tanpa henti berbicara dengan kata2 yang menohok sekali, "jangan pernah menjatuhkan diri pada kemaksiatan yang SAMA (pacaran, berlebay ria dengan lawan jenis) karna akan sama saja kamu menukar petunjuk dengan kesesatan". Mmmmmhhhhh,,,, aku memilih cuek menanggapi perhatian2 lebay yang datang, bukan mengabaikan, tapi lebih ke-seperlunya saja, menghindari “bertindak kejauhan” haha….aku hanya bisa mencintai dalam diam, dalam kesabaran, biar waktu yang akan menunjukkan jalannya dengan caranya, tanpa perlu memaksakan jalan cerita. Ini bukan tentang siapa yang aku tunggu, tapi tentang bagaimana aku menemukan dan ditemukan pada suatu masa, H A L A L….
Hari ini aku bernostalgia dengan diary2ku. Jaman masih sekolah dulu aku suka sekali menulis diary, sampai lulus kuliah pun aku masih suka menulis diary, aku menuliskan apa saja yang aku rasakan, menuliskan apa saja isi hati yang ingin kutumpahkan, menulis diary bagiku sangat menyenangkan dibandingkan menceritakannya pada orang lain, bukan karna aku tak punya teman untuk berbagi, bukan! ini hanya tentang rasa nyaman, dan hari ini kubaca lagi diary2 jadul itu, hari ini aku bisa menertawakan diriku sendiri melalui tulisan2ku, aku juga bisa menangisi diriku sendiri membaca tulisanku, ternyata dulu, aku lucu sekali, haha…..
Selamat ulang taun yaaaa…. semoga segera dipertemukan dengan imam yang baik hatinya, baik perangainya, baik fisiknya, bertanggungjawab dan yang paling penting, yang baik pemahamannya dalam mencintai Alloh….aamiin
*****
Sebenarnya ini bukan tentang kepergianmu, bukan tentang apa yang belum selesai diantara kita, bukan juga tentang siapa yang meninggalkan dan siapa yang ditinggalkan
Ini tentang bagaimana kakiku tetap kupaksakan berjalan disaat kamu dan orang lain bahkan tak percaya aku mampu menempuh jalannya
Ini tentang bagaimana niatku untuk tetap mantap menunggu yang halal meskipun kamu dan orang lain bahkan melihatku tak mampu melewatinya
Ini tentang keteguhan hatiku untuk tetap bertahan disaat kamu dan orang lain bahkan melihatku dengan sebelah mata sambil berbisik “tak mungkin”
Ini semua tentang bagaimana aku bahagia menjadi saksi perjalananmu, dari awal, hingga saat ini
Mengertilah, aku bukan berniat pergi meninggalkanmu. Hanya saja, aku tak mau mengijinkan kamu sekedar menyapa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar