Kenyataannya, semua orang pernah sakit. Tapi kali ini aku
berlebihan. Aku sakit dan aku merasa sendirian, jauh dari manapun, jauh
dari rumah, jauh dari suami, aku ada di perantauan, kesakitan.
Sebenarnya sakitku juga tak separah perasaan berlebihanku, hanya saja
aku terlalu cengeng dan terlalu peka.
Jadi ceritanya, aku minta tolong sm temen minta dibeliin
sesuatu, semacam obat, aku lagi ga terang2an ngrepotin temen, aku tau
dia lg diluar dan aku nitip beliin pas pulang, sekalian pikirku. Tapi
apa, lama ga bales pesanku, sekalinya bales, "maafkeun aku ud dikostan",
jleb! Sedih. Aku mau nyalahin itu teman --- marah2, trus bilang ini itu,
lalu curhat sambil memelas, andai kamu tau teman, aku tadinya pengen beli
itu pas pulang kerja, tapi bagaimana, untuk sampai dikost aja aku butuh
berjuang biar tidak ambruk dijalan kemudian nyusahin orang, itulah
kenapa aku ga bisa mampir2 dan minta tolong sm kamu, teman!--- tapi ga
guna, buat apa? Cuma ketahan dihati lalu mewek nelangsa, manggil2 orang
rumah, tapi mana mereka denger, hiks!
Aku ga bisa tidur, aku harus minum obat, aku ingin besok bisa membaik, aku kumpulkan kekuatan yang tersisa, lalu pergi ke toko terdekat, beli obat dan bisa balik lagi dengan selamat, sendiri! Aku bisa merawat diriku sendiri. Aku kirim pesan ke bapak suami, yang sepertinya sangat khawatir tapi cuma bisa berdoa. Aku baik-baik saja disini bapak, tapi sambil nangis, sambil mimi obat. Si bapak nge-video call, dan aku cm bisa sesenggukan, nangis nangis, sibapak cuma diam tapi aku tau, si bapak merapal banyak doa untukku, seolah memelukku dalam diam, tatapan matanya seperti terluka, bagaimana tidak, dia tak bisa ada di dekatku saat ini, dan aku masih menangis ---bapak, andai kamu tau bahwa sakitku biasa saja bapak, hanya saja ada insiden teman yang tak bisa ku ceritakan padamu, karena aku tau akulah yang terlalu berlebihan. maafkan aku, bapak, sudah membuatmu begitu keterlaluan mengkhawatirkan aku--- dalam videocall, sibapak masih terus menenangkan, seperti meninabobokanku, sampai aku terlelap dalam tidur bersimbah air mata. (Lebay tingkat dewa ini, haha)
Aku ga bisa tidur, aku harus minum obat, aku ingin besok bisa membaik, aku kumpulkan kekuatan yang tersisa, lalu pergi ke toko terdekat, beli obat dan bisa balik lagi dengan selamat, sendiri! Aku bisa merawat diriku sendiri. Aku kirim pesan ke bapak suami, yang sepertinya sangat khawatir tapi cuma bisa berdoa. Aku baik-baik saja disini bapak, tapi sambil nangis, sambil mimi obat. Si bapak nge-video call, dan aku cm bisa sesenggukan, nangis nangis, sibapak cuma diam tapi aku tau, si bapak merapal banyak doa untukku, seolah memelukku dalam diam, tatapan matanya seperti terluka, bagaimana tidak, dia tak bisa ada di dekatku saat ini, dan aku masih menangis ---bapak, andai kamu tau bahwa sakitku biasa saja bapak, hanya saja ada insiden teman yang tak bisa ku ceritakan padamu, karena aku tau akulah yang terlalu berlebihan. maafkan aku, bapak, sudah membuatmu begitu keterlaluan mengkhawatirkan aku--- dalam videocall, sibapak masih terus menenangkan, seperti meninabobokanku, sampai aku terlelap dalam tidur bersimbah air mata. (Lebay tingkat dewa ini, haha)
Dari kejadian ini, aku mengambil banyak pelajaran berharga,
bahwa penting untukku -dan juga anak rantau dimana pun berada- untuk
sedia obat sesuai sakit yang biasanya melanda, harus! Dan satu lagi,
belajar mandiri, mengatasi masalah sendiri. Menahan diri
untuk tidak mengeluh apalagi curhat memelas sama orang lain, berharap
orang lain kasian tapi itu cuma mempermalukan diri sendiri, plisss
jangan lakukan itu!! Jadilah anak rantau yang kuat, sehat, selamat. Dan
terakhir, jangan cengeng juga jangan berlebihan kaya saya, hahaaaaa.......
Big thanks untuk bapak suami, terimakasih untuk cintamu yang begitu luar biasa. Mumumumumu.......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar